HARGA KARET ANJLOK PETANI MENJERIT

Sabtu, 10 Januari 2009 |


Bengkulu, 12/12 (ANTARA)
- Anjloknya harga karet dalam beberapa terahir ini, membuat petani di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu menjerit dan sangat terpukul.

Beberapa petani di Kabupaten Mukomuko, yang ditemui, Jumat mengaku, sangat terpukul dengan anjloknya harga komoditas perkebunan tersebut.
Yakub, seorang petani warga Desa Arga Jaya, menjelaskan, dalam dua hari terakhir harga getah karet pada tingkat petani saat ini anjlok sampai pada Rp2.000-Rp2.500/kg.
"Dalam dua hari terakhir ini, harga karet kembali turun, padahal sebelumnya sudah mulai bagus, pada tingkat petani mencapai Rp6.000/kg," katanya.
Dia menjelaskan, bahwa sejak terjadi krisis keuangan global dalam beberapa bulan terakhir ini, harga karet turun drastis dari yang sebelumnya Rp9.000-Rp10.000/kg, menjadi Rp3.000-RpRp4.000/g.
Namun pada akhir November 2008, harga getah karet kembali mengalami kenaikan walaupun jumlahnya relatif kecil.
"Minggu lalu harga Rp5.500/kg, kami sudah sangat senang dan berharap harga akan terus merangkak naik, tapi ternyata dua hari terakhir kembali anjlok menjadi Rp2.000-Rp2.500/kg," katanya.
Hal senada juga dikatakan Darno, petani di Desa Tirta Kencana, Kabupaten Mukomuko, yang juga mengaku sangat terpukul dengan anjloknya harga karet dalam beberapa hari terakhir ini.
"Kita tidak tahu mengapa bisa turun lagi, padahal kita berharap harga getah karet bisa terus mengalami kenaikan", ujarnya.
Dengan penurunan tersebut, menurut dia, membuat petani semakin sulit karena hasil yang diperoleh dari menjual getah karet tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anak sekolah.
"Kalau harganya segitu (Rp2.000-Rp2.500-red), paling hanya untuk makan saja, kalau untuk biaya pupuk dan anak-anak sekolah terpaksa harus ngutang dulu" ujarnya.
Sedangkan harga pupuk juga semakin mahal dan tidak terjangkau untuk petani, padahal karet harus terus dipupuk biar menghasilkan getah.
Sementara itu, Joni, seorang pedagang pengumpul karet, mengatakan harus membeli karet di tingkat petani dengan harga Rp2.000 karena harga dipabrik tempat dia menjual karet hanya Rp2.500-Rp3.000/kg.
"Mau bagaimana lagi, memang dipabrik juga lagi murah, belum lagi biaya transportasi yang harus kita dikeluarkan", katanya.
Joni dan para pengumpul karet lainya biasaya menjual getah karet ke Kota Bengkulu atau ke provinsi tetangga, Sumatera Barat (Sumbar).
Untuk mengangkut getah karet dari petani sampai ke pabrik, Joni harus mengeluarkan biaya buruh dan transportasi sampai Rp5 juta untuk sekali angkut.

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar yang bersifat membangun :