Bengkulu, 3/12 (ANTARA)- Warga Mukomuko, Bengkulu, yang mayoritas petani sawit dan karet, mengeluhkan buruknya jalan ke sentra produksi mereka.
"Banyak jalan yang setiap harinya digunakan untuk mengangkut hasil pertanian rusak, sehingga membahayakan pengguna jalan. Apalagi kalau musim penghujan jalan tidak dapat dilalui truk karena kondisinya yang becek dan licin," kata Darno, petani warga Desa Tirta Kencana, Kecamatan Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Rabu.
Jalan-jalan di sentra produksi yang digunakan oleh Darno dan petani di daerah tersebut untuk mengangkut hasil bumi memang hanya dilapisi batu koral yang sudah tidak tertata, dan sebagian sudah tinggal tanah dan banyak lubang.
"Karena sering dilalui truk pengangkut karet dan sawit jalan yang seharusnnya berlapis koral, kini hanya berlapis tanah dan bergelombang," kata ayah tiga anak itu.
Selain itu, topografi tanah yang naik turun juga membuat truk-truk pengangkut sawit dan karet kesulitan untuk melaluinya.
Kalau musim hujan tiba, sawit maupun karet tidak dapat diangkut dengan truk, dan terpaksa harus diangkut secara manual dengan gerobak sorong atau mepekerjakan buruh untuk mengangkutnya ke jalan besar, sebelum diangkut oleh truk, katanya.
Kondisi itu, katanya, menambah penderitaan petani di daerah tersebut, karena mereka harus mengeluarkan ongkos angkut lebih besar, sementara harga sawit dan karet belakangan ini anjlok akibat krisis keuangan global.
"Dengan harga sawit dan karet yang murah bagaimana petani mau dapat untung. Baru mau menjual saja sudah mengeluarkan biaya angkut lebih besar", katanya.
Darno dan petani lainnya berharap pemerintah dapat memperhatikan jalan-jalan di daerah pedesaan terutama jalan ke sentra produksi yang menjadi urat nadi perekonomian di daerah tersebut.
Bupati Muko Muko Ichwan Yunus sebelumnya menjelaskan, guna mempercepat pembangunan jalan dan jembatan, sejak 2006 pihaknya telah memberikan bantuan dana untuk pedesaan sebesar Rp150 juta per desa per tahun. Dari dana itu, Rp50 juta untuk operasional pemerintahan desa, dan Rp100 juta untuk pembangunan infrastruktur.
Dengan sistem itu, kondisi infrastruktur pedesaan termasuk jalan ke sentra produksi di kabupaten bisa cepat diperbaiki.
Menurut dia, kini hanya tinggal 20 persen jalan pedesaan yang kondisinya masih tanah dan belum tersentuh pembangunan. Sedangkan
yang 80 persen lagi sudah dilapisi dengan koral, sehingga bisa dilalui kendaraan roda empat.
Di Kabupaten Muko Muko terdapat 84 desa dan satu kelurahan, namun masih ada beberapa desa yang terisolir.
Ichwan menargetkan paling lambat 2009 tidak ada lagi desa di daerahnya yang terisolir akibat tidak ada jalan dan jembatan.
Kabupaten Muko Muko yang di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, berdiri pada 2003, dan merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara. Sebanyak 50 persen wilayah kabupaten itu merupakan daerah transmigrasi dengan infrastruktur terutama jalan jelek atau masih tanah.
Gubernur Bengkulu, Agusrin Maryono Najamuddin, menargetkan suluruh jalan pedesaan di provinsi tersebut sudah bagus paling lambat 2010.
Ada empat jenis jalan pedesaan yang menjadi sasaran pembangunan yakni jalan dalam desa, jalan antardesa, jalan dari desa ke kota kecamatan, serta jalan dari desa ke sentra produksi.
WARGA MUKOMUKO KELUHKAN JALAN KE SENTRA PRODUKSI
Rabu, 07 Januari 2009 |
Diposting oleh
Informasi Seputar Bengkulu
Label:
Potensi Ekonomi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
RSS Feed
0 komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar yang bersifat membangun :